Showing posts with label stories. Show all posts
Showing posts with label stories. Show all posts

Saturday, November 08, 2008

secret kiss

Jam tanganku menunjukkan pukul sebelas siang. Mataku menyusuri terminal kedatangan Bandara Sukarno Hatta. Hari ini aku ditugaskan ibu untuk menjemput adiknya, Tante Kirana yang datang dari Pekanbaru. Aku baru sampai lima belas menit yang lalu, dan Tante Kirana seharusnya sudah mendarat dari setengah jam yang lalu. Mungkin masih mengurusi bagasi, pikirku.

“Amara!”, aku mendengar namaku dipanggil seseorang, reflek aku mencari sumber suara itu. Tak jauh dari pintu kedatangan, aku melihat Tante Kirana sedang melambaikan tangannya padaku, aku menghampirinya. Setelah aku menyalami tanteku, aku melihat Rae, sepupuku itu masih sedikit kerepotan membawa koper-kopernya. Aku bersalaman dengan Rae. Ia tersenyum dan aku membalasnya ringan.

Perjalanan ke rumahku memakan waktu 45 menit. Selama perjalanan itu, aku dan Tante Kirana asik berbincang-bincang, kadang-kafang Rae juga terlibat dalam pembicaraan kami. Akhirnya, kami sampai juga di rumah. Ibuku sudah menunggu di depan rumah, begitu turun dari mobil ia langsung memeluk Tante Kirana.

*

Urusan bisnis ibu dan Tante Kirana ternyata memakan waktu dua minggu, setiap hari ibu dan Tante Kirana pergi untuk mengurusi bisnis mereka yang katanya sedang membuat kerjasama dengan pihak lain. Aku terkena imbasnya. Ibu menyuruhku menemani Rae berkeliling Jakarta, mumpung sedang liburan, begitu katanya. Aku menyanggupi permintaan ibu, walaupun aku sedikit malas, setidaknya aku tidak mati bosan dalam rumah sambil terjerat mainan-mainan di laptopku.

Siang ini aku mengajak Rae makan di Citos. Tidak terlalu penuh. Tak lama pelayan datang menanyaka pesananku dan Rae, kemudian meninggalkan aku, berdua denga Rae.

“pacar kamu sekarang siapa, Mar?”, katanya menyudahi kecanggungan di antara kami.

“ada kok, temen sekolahku.”, jawabku sambil tersenyum malu karena pertanyaan dari Rae.

“oh, kamu udah nggak sama siapa tuh namanya? Mmm...”

“nggak, aku udah nggak sama Reno lagi.”

“oiya! Reno.”

“kalo kamu sekarang sama siapa, Rae?”

“namanya Anggina, Mar.”, kali ini Rae menjawabnya sambil tersenyum. Senyuman yang sama ketika aku menjemputnya di bandara tempo hari. Senyum yang kembali membuatku merasakan sesuatu.

*

Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya. Bertahun-tahun sebelumnya aku belum pernah secanggung ini apabila dekat Rae. Biasanya aku selalu bercerita banyak hal kepadanya, namun kenapa kali ini aku jadi lebih pendiam. Dan senyumnya, senyuman itu selalu ada dalam kepalaku. Terbayang tak mau hilang. Apa jangan-jangan... ah, aku harus menyingkirkan perasaan itu. Rae sepupuku. Aku tak mungkin jatuh cinta padanya. Dilarang.

*

Hari-hari berikutnya sikapku pada Rae tidak secanggung seperti awal aku kembali bertemu dia. Sekarang aku 80% bersikap normal pada Rae. Rae dan aku mulai saling berbagi cerita tentang kehidupan kami maisng-masing. Mulai dari cerita tentang aku dan pacarku, Alta, sekolahku, hingga kehidupan dia di Pekanbaru, dan cerita cintanya dengan Anggina. Aku tahu ia sangat menyayangi Anggina, menurutnya, rasa sayangku pada Alta masih kalah dengan perasaannya kepada Anggina. Aku hanya tertawa ketika ia bilang hal itu.

Aku dan Rae sangat menikmati liburan kami, tidak seperti ibu-ibu kami yang sibuk dengan urusan bisnisnya, walaupun Tante Kirana masih menyempatkan diri untuk seharian berbelanja di Mangga Dua. Ketika aku bersama Rae, aku merasakan ada rasa aneh yang menyelinap begitu saja. Aku masih mengabaikan rasa itu, tentu saja.

Alta dan aku baik-baik saja. Well, tidak selalu baik-baik saja sih. Aku pernah mengajak Alta untuk ikut menemani Rae berkeliling Jakarta, itu untuk mengurangi rasa cemburunya yang kian hari kian meninggi karena aku harus selalu menemani Rae. Kadang-kadang aku tak habis pikir, mengapa Alta bisa cemburu pada Rae? Mungkin ia hanya cemburu karena liburanku lebih dicurahkan kepada Rae. Huh, Alta memang suka begitu.

Kini sudah seminggu lebih Rae berada di Jakarta. Hari ini ia memutuskan untuk stay di rumah.

“aku capek ah, Mar jalan-jalan terus. Jakarta macet terus sih, panas lagi. Hari ini aku di rumah aja ya.”, begitu jawabnya ketika aku tanya apa dia mau keluar lagi. Aku setuju dengannya, aku memang lelah berkeliling jakarta minggu ini. Apalagi dengan kemacetan Jakarta yang makin parah. Akhirnya, aku memutuskan untuk bermain saja dengan Sergio, laptop ku. Mungkin aku akan menulis cerita, pikirku.

Aku mengambil eskrim yang ada di kulkas dan mulai asyik menulis cerita di laptopku. Aku tenggelam dengan tokoh ceritaku hingga aku tak sadar kalau Rae sudah berada dalam kamarku.

“Ehem”, suara itu mengagetkanku.

“Rae!”

“aku bosan, Mar. Di luar panas lagi. Aku numpang ngadem di kamar kamu ya?”, katanya sambil seenaknya tiduran di kasurku. Tepat di sebelahku. Aku kembali merasa canggung dan aneh, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa kepadanya.

“katanya tadi kamu capek dan nggak mau pergi.”, kataku sambil tetap fokus pada tulisanku. Namun percuma.

“ada eskrim kamu kok nggak nawarin aku, Mar? Bagi ya?”, dengan cepat ia menyambar eskrim conello di tanganku. Aku masih saja berusaha tetap fokus dengan tulisanku. Masih sia-sia.

“Amara..?”

“hmm?”, jawabku sambil menoleh ke arahnya.

Dalam hitungan detik aku mersakan ciuman lembut Rae mendarat di bibirku. Oh tuhaaaan! Respon tubuhku mulai tak karuan, degup jantungku terdengar hebat dan rasanya aku hampir pingsan. Lama Rae menciumku, hingga aku merasa aku benar-benar hampir pingsan. Aku melepaskannya, dan duduk terdiam dengan merasakan sensasi aneh pada perutku dan jantungku.

“so sorry, Amara. i.. i.. i just love you.”, kata-katanya mengalir begitu saja dan menusuk hatiku.

Bagaimana bisa ia mengatakan itu?? Well, maybe deep down inside i love him too. Tapi kami ini saudara sepupu. Bagaimana bisa perasaan itu muncul? Aku sudah menahannya, tapi kali ini kubiarkan itu kelua begitu saja.

“mmmh.. me too.”, kataku masih mempertanyakan ucapanku barusan. Apa benar? Apa benar aku juga cinta kepada rae?

“we can’t stand like this.”, kataku lagi.

“im so sorry, Amara”, kata Rae sambil berlalu pergi.

Setelah aku mendengar Rae menutup pintu kamarku, aku terbaring di tempat tidurku, masih dengan rasa tak percaya. Apa rasa itu adalah cinta? That was my first kiss! And i kissed Rae! Pikiranku kini dipenuhi dengan Alta dan Anggina. Maafkan aku Alta.

*

Kini sudah beberapa tahun berlalu semenjak kejadian itu. Hubunganku dengan Rae masih seperti sepupu. Namun, aku lebih tertutup dengannya. Rae mungkin menyadari bahwa itu adalah sebuah tindakan preventif dariku, but we’re still fine. Alta dan aku sudah putus, namun Rae masih pacaran dengan Anngina. He’s right, rasa sayangnya kepada Anggina lebih besar daripada rasa sayangku kepada Alta. Kami sama-sama menjaga hal itu dari Anggina maupun Alta. Aku tidak pernah memberitahukan rahasia ini kepada siapapun, until i wrote it down, here. aku pernah berfikir apa rasanya ciuman Rae waktu itu, and it felt like.. chocolate! Rasa conello. ; p

Thursday, October 09, 2008

the secret

Jam tanganku menunjukkan pukul sebelas siang. Mataku menyusuri terminal kedatangan Bandara Sukarno Hatta. Hari ini aku ditugaskan ibu untuk menjemput adiknya, Tante Kirana yang datang dari Pekanbaru. Aku baru sampai lima belas menit yang lalu, dan Tante Kirana seharusnya sudah mendarat dari setengah jam yang lalu. Mungkin masih mengurusi bagasi, pikirku.

“Amara!”, aku mendengar namaku dipanggil seseorang, reflek aku mencari sumber suara itu. Tak jauh dari pintu kedatangan, aku melihat Tante Kirana sedang melambaikan tangannya padaku, aku menghampirinya. Setelah aku menyalami tanteku, aku melihat Rae, sepupuku itu masih sedikit kerepotan membawa koper-kopernya. Aku bersalaman dengan Rae. Ia tersenyum dan aku membalasnya ringan.

Perjalanan ke rumahku memakan waktu 45 menit. Selama perjalanan itu, aku dan Tante Kirana asik berbincang-bincang, kadang-kafang Rae juga terlibat dalam pembicaraan kami. Akhirnya, kami sampai juga di rumah. Ibuku sudah menunggu di depan rumah, begitu turun dari mobil ia langsung memeluk Tante Kirana.

*

Urusan bisnis ibu dan Tante Kirana ternyata memakan waktu dua minggu, setiap hari ibu dan Tante Kirana pergi untuk mengurusi bisnis mereka yang katanya sedang membuat kerjasama dengan pihak lain. Aku terkena imbasnya. Ibu menyuruhku menemani Rae berkeliling Jakarta, mumpung sedang liburan, begitu katanya. Aku menyanggupi permintaan ibu, walaupun aku sedikit malas, setidaknya aku tidak mati bosan dalam rumah sambil terjerat mainan-mainan di laptopku.

Siang ini aku mengajak Rae makan di Citos. Tidak terlalu penuh. Tak lama pelayan datang menanyakan pesananku dan Rae, kemudian meninggalkan aku, berdua denga Rae.

“pacar kamu sekarang siapa, Mar?”, katanya menyudahi kecanggungan di antara kami.

“ada kok, temen sekolahku.”, jawabku sambil tersenyum malu karena pertanyaan dari Rae.

“oh, kamu udah nggak sama siapa tuh namanya? Mmm...”

“nggak, aku udah nggak sama Reno lagi.”

“oiya! Reno.”

“kalo kamu sekarang sama siapa, Rae?”

“namanya Anggina, Mar.”, kali ini Rae menjawabnya sambil tersenyum. Senyuman yang sama ketika aku menjemputnya di bandara tempo hari. Senyum yang kembali membuatku merasakan sesuatu.

*

Aku bingung bagaimana harus menjelaskannya. Bertahun-tahun sebelumnya aku belum pernah secanggung ini apabila dekat Rae. Biasanya aku selalu bercerita banyak hal kepadanya, namun kenapa kali ini aku jadi lebih pendiam. Dan senyumnya, senyuman itu selalu ada dalam kepalaku. Terbayang, tak mau hilang. Apa jangan-jangan... ah, aku harus menyingkirkan perasaan itu. Rae sepupuku. Aku tak mungkin jatuh cinta padanya. Dilarang.

*

Hari-hari berikutnya sikapku pada Rae tidak secanggung seperti awal aku kembali bertemu dia. Sekarang aku 80% bersikap normal pada Rae. Rae dan aku mulai saling berbagi cerita tentang kehidupan kami masing-masing. Mulai dari cerita tentang aku dan pacarku, Alta, sekolahku, hingga kehidupan dia di Pekanbaru, dan cerita cintanya dengan Anggina. Aku tahu ia sangat menyayangi Anggina, menurutnya, rasa sayangku pada Alta masih kalah dengan perasaannya kepada Anggina. Aku hanya tertawa ketika ia bilang hal itu.

Aku dan Rae sangat menikmati liburan kami, tidak seperti ibu-ibu kami yang sibuk dengan urusan bisnisnya, walaupun Tante Kirana masih menyempatkan diri untuk seharian berbelanja di Mangga Dua. Ketika aku bersama Rae, aku merasakan ada rasa aneh yang menyelinap begitu saja. Aku masih mengabaikan rasa itu, tentu saja.

Alta dan aku baik-baik saja. Well, tidak selalu baik-baik saja sih. Aku pernah mengajak Alta untuk ikut menemani Rae berkeliling Jakarta, itu untuk mengurangi rasa cemburunya yang kian hari kian meninggi karena aku harus selalu menemani Rae. Kadang-kadang aku tak habis pikir, mengapa Alta bisa cemburu pada Rae? Mungkin ia hanya cemburu karena liburanku lebih dicurahkan kepada Rae. Huh, Alta memang suka begitu.

Kini sudah seminggu lebih Rae berada di Jakarta. Hari ini ia memutuskan untuk stay di rumah.

“aku capek ah, Mar jalan-jalan terus. Jakarta macet terus sih, panas lagi. Hari ini aku di rumah aja ya.”, begitu jawabnya ketika aku tanya apa dia mau keluar lagi. Aku setuju dengannya, aku memang lelah berkeliling jakarta minggu ini. Apalagi dengan kemacetan Jakarta yang makin parah. Akhirnya, aku memutuskan untuk bermain saja dengan Sergio, laptop ku. Mungkin aku akan menulis cerita, pikirku.

Aku mengambil eskrim yang ada di kulkas dan mulai asyik menulis cerita di laptopku. Aku tenggelam dengan tokoh ceritaku hingga aku tak sadar kalau Rae sudah berada dalam kamarku.

“Ehem”, suara itu mengagetkanku.

“Rae!”

“aku bosan, Mar. Di luar panas lagi. Aku numpang ngadem di kamar kamu ya?”, katanya sambil seenaknya tiduran di kasurku. Tepat di sebelahku. Aku kembali merasa canggung dan aneh, tapi aku berusaha untuk bersikap biasa kepadanya.

“katanya tadi kamu capek dan nggak mau pergi.”, kataku sambil tetap fokus pada tulisanku. Namun percuma.

“ada eskrim kamu kok nggak nawarin aku, Mar? Bagi ya?”, dengan cepat ia menyambar eskrim conello di tanganku. Aku masih saja berusaha tetap fokus dengan tulisanku. Masih sia-sia.

“Amara..?”

“hmm?”, jawabku sambil menoleh ke arahnya.

Dalam hitungan detik aku mersakan ciuman lembut Rae mendarat di bibirku. Oh tuhaaaan! Respon tubuhku mulai tak karuan, degup jantungku terdengar hebat dan rasanya aku hampir pingsan. Lama Rae menciumku, hingga aku merasa aku benar-benar hampir pingsan. Aku melepaskannya, dan duduk terdiam dengan merasakan sensasi aneh pada perutku dan jantungku.

“so sorry, Amara. i.. i.. i just love you.”, kata-katanya mengalir begitu saja dan menusuk hatiku.

Bagaimana bisa ia mengatakan itu?? Well, maybe deep down inside i love him too. Tapi kami ini saudara sepupu. Bagaimana bisa perasaan itu muncul? Aku sudah menahannya, tapi kali ini kubiarkan itu keluar begitu saja.

“mmmh.. me too.”, kataku masih mempertanyakan ucapanku barusan. Apa benar? Apa benar aku juga cinta kepada Rae?

“we can’t stand like this.”, kataku lagi.

“im so sorry, Amara”, kata Rae sambil berlalu pergi.

Setelah aku mendengar Rae menutup pintu kamarku, aku terbaring di tempat tidurku, masih dengan rasa tak percaya. Apa rasa itu adalah cinta? That was my first kiss! And i kissed Rae! Pikiranku kini dipenuhi dengan Alta dan Anggina. Maafkan aku Alta.

*

Kini sudah beberapa tahun berlalu semenjak kejadian itu. Hubunganku dengan Rae masih seperti sepupu. Namun, aku lebih tertutup dengannya. Rae mungkin menyadari bahwa itu adalah sebuah tindakan preventif dariku, but we’re still fine. Alta dan aku sudah putus, namun Rae masih pacaran dengan Anngina. He’s right, rasa sayangnya kepada Anggina lebih besar daripada rasa sayangku kepada Alta. Kami sama-sama menjaga hal itu dari Anggina maupun Alta. Aku tidak pernah memberitahukan rahasia ini kepada siapapun, until i wrote it down, here. aku pernah berfikir apa rasanya ciuman Rae waktu itu, and it felt like.. chocolate! Rasa conello. ; p

Wednesday, July 02, 2008

fact and fiction.

Musim panas kali ini kembali melanda kota Jakarta. Hari ini rasanya Aira begitu malas jika harus melakukan sesuatu. Rasanya ingin tidur saja di kamarnya sambil memasang ac yang paling rendah suhunya, namun sayang ia tak dapat membatalkan kedatangan Satya. Pasalnya, hari ini ia sudah berjanji untuk mencoba resep modifikasi cupcakenya kepada Satya. Maklum Satya adalah pemilik toko kue the cupcakes yang kini berubah menjadi coffee shop. Aira membuka laptop hitam miliknya dan mencari-cari dokumen resep cupcake nya. Kemudian ia mencetaknya dan kembali bermalas-malasan.

Tak lama kemudian terdengar bel di pintu bawah, tamu yang ditunggunya sedari tadi akhirnya datang juga. Ia menuruni tangga sambil berlari kemudian membukakan pintu untuk Satya.

“langsung aja yuk, Sat”, Aira kemudian mengajak Satya ke dapur. Satya bersandar di dinding memperhatikan Aira menimbang tepung dan menyiapkan bahan-bahan. Sejenak kemudian bahan-bahan untuk cupcake sudah siap, Aira membaca petunjuk resepnya dan mulai mencampurkan bahan.

“aku bantuin ya, Ra”, kata Satya kemudian.

“ngga usah, Sat. Kamu bantuin makan aja nanti”, jawab Aira sambil tertawa senang. Sebetulnya ia cukup nervous untuk membuat cupcake kali ini. Bukan karena ini penentuan apakan resepnya akan dimasukkan dalam daftar menu the cupcakes, tapi karena ia sedang tidak mood memasak, dan karena Satya. Sudah cukup lama ia tidak membuat cupcake. Mungkin itu terlalu mengingatkannya pada Satya. Mungkin. Satya tetap bersikeras memaksa Aira untuk membantunya. Aira menyerah, akhirnya ia menugaskan Satya untuk mengaduk adonan yang hampir jadi. Obrolan singkat di dapur itu seperti menyula kembali waktu yang telah mereka tinggalkan. Setelah Aira kembali dari London, ini kali pertama Satya ke rumah Aira lagi. Setelah Satu tahun yang lalu.

Aira memasukkan loyang cup terkahir ke dalam oven dan memutar timernya. Dari belakang, Satya mengelus rambut Aira yang tergerai panjang. Aira masih sama seperti yang dulu pikirnya. Dulu Aira memang pernah mengisi hari-hari Satya, namun keputusannya pergi ke London mengubah segalanya. kini mereka berdua bersandar di sofa cokelat yang nyaman. Aira menyalakan dvd seri yang sedang ditontonnya. Sesekali ia tertawa dan mengobrol dengan Satya. Sesekali pula Satya memeluk Aira lembut. Pelukan yang sama seperti dulu.

“Aira, gimana kalau kita balik kaya dulu aja?”, kata Satya lirih.

Kata-kata Satya membuatnya speechless.

“Aira, are you okay?”, kata Satya lagi. Ia khawatir Aira akan tersinggung dengan pertanyaannya.

“kenapa, Sat?”, tanya Aira. Kenangan akan masa lalunya dengan Satya kembali berkecamuk dalam imajinya.

i think its still you, ra”, Satya menatap dalam-dalam mata cokelata Aira yang sedang terdiam.

“gatau, Sat. Aku gatau harus gimana..”

answer my question, Aira”

let me think about it, okay? Just give me a lil time.”

Okay.”

Kemudian sebuah kecupan mendarat di pipi lembut Aira. ia hanya bisa terdiam menanggapi hatinya yang kini tak menentu. Bagaimana ia bisa menerima semuanya dalam waktu secepat ini? Bahkan ia sedikitpun tak pernah memikirkannya lagi, kembali bersama Satya. Apa Satya benar-benar serius untuk memintanya kembali atau ia hanya ingin menyakiti hatinya lagi. Rasanya suda cukup Satya menyakiti hati Aira. Dan seperti ini, rasanya benar-benar sakit.

“Aira, are you okay?”

sorry, yes i am

no you arent

im okay, Satya”

i dont think so.. hayo ngaku kamu kenapa?”

im okay, Satya. Nonton aja yuk”, sejenak kemudian Aira sudah tertawa lagi. Namun hatinya masih berkecamuk.

Malam itu di sushi tei..

“Ra, pokonya gue gasuka aja lo deket sama si Satya lagi. He’s a jerk, Aira”, kata Satsuki.

“i know”, jawab Aira sambil melahap sushinya.

“awas aja ya kalo lo sampe balikan lagi sama dia.” Kata Satsuki lagi.

“promise..”, Aira melingkarkan kelingkingnya di kelingking Satsuki dengan senyuman lebar.

Memang tak pernah terfikir olehnya kalau Satya akan memintanya kembali lagi. Rasanya ia bermimpi. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Janjinya kepada Satsuki malam itu, perasaannya, sakit hatinya, kerinduannya, semuanya membuatnya tak bisa berfikir.

Denting oven menandakan bahwa cupcakenya sudah matang. Buru-buru ia menghampiri ovencupcake cokelat. Satu per satu ia mengeluarkan cupcake yang sudah matang dari oven, Satya juga ada di belakangnya. yang menyebarkan bau semerbak. Wangi

Aira kembali ke ruang tengah dengan sepiring cupcake yang masih panas, diikuti Satya di belakangnya. Langsung saja Satya mengambil sebuah cupcake yang masih panas dan dimakannya.

“masih panas, Sat. Pelan-pelan makannya”, kata Aira

“hahahaha, aku laper, Ra”, kata Satya sambil memakan kuenya yang kedua.

“mau coba, Ra?”, kata Satya sambil menyuapi Aira potongan kecil cupcake. Aira mengambil potongan itu dari Satya dan memakannya.

“hahahahahaha rasa tepung, Sat”, kata Aira sambil tertawa.

“enak ko. Hahaha.. next time kamu bikin lagi yg enak ya.. yang kaya gini belom masuk standar the cupcakes”, kata Satya mencoba sedikit menghibur Aira. kemudian kecupan itu mendarat di bibir Aira. kecupan yang sama seperti setahun yang lalu. Hatinya kini kian berkecamuk, fikirannya tak tentu, kecupan itu sekali lagi membuat ia merasakan seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya, naik turun layaknya jet coaster di dufan. ia hanya refleks menghindar. Terlambat, Satya telah menciumnya. Satu ciuman Satya yang ia rindukan. Bagaimana bisa ia begitu naif? Ia terlalu kacau sekarang.

Aira masih termenung, menenangkan hatinya yang tak kalah ramai dengan orang-orang yang lalu lalang di depan kafe pinggiran. Ia butuh udara segar atas semua ini. Satya kemudain duduk di depannya, ia menyodorkan segelas ice cappucino pesanan Aira.

“kamu kenapa, Ra?”

“gapapa, Sat”, jawap Aira sambil menyeruput kopinya yang masih sangat pahit. Pelan-pelan ia menambahkan gula cair pada kopinya. Kopi memang selalu menjadi pelariannya jika ia sendang kacau. Ia hanya butuh udara segar, segelas cappucino dan keramaian di tempat asing. Baginya itu sumber pencerahan.

“Satya..”, kata Aira sambil menatap Satya.

“ya?”

why dont we get along with this? Aku lebih comfort kalo kita kaya gini.”

its okay, princess..”, Satya tersenyum.

Ya tuhaan.. bagaimana bisa aku seperti ini. Pikir Aira.

well, actually, i want to.. but, i really cant. Sorry.. aku takut aku failed kaya dulu, Sat. Cukup Satu kali aja aku failed kaya gitu sama kamu. Is that okay?”

so, we’re cool?”, kata Satya sambil tersenyum

yeah, is it okay?”

sure..”, keheningan melanda sejenak. Dari dalam kafe terdengar suara lagu. Aira tahu lagu ini. Rihanna, p.s im still not over you.

“Satya, listen to the song! Aku banget, Sat. Hahaha”, kata Aira sambil tertawa.

Dan di sisa sore itu terlalu banyak confessions yang terucap. Ketakutan akan jatuh cinta ataupun perasaan yang timbul tenggelam. Terlalu banyak memang. Dan biarkan saja atmosfer senja yang merekam semua confession mereka. Sampai mereka terlupa atau sampai suatu saat itu akan terungkap. ;)

Saturday, May 31, 2008

angka-angka cinta (hoekk)

helloo helloo.. sepertinya gue semakin menggila. huhuhuhu.
review biologi SANGAT KACAU! hehe. gara"nya waktu malemnya gue ketawa" doang.. dan GA BELAJAR! huhuhuhuhuu..

malem itu, roommates gue pada ngegombal. haha. ga roommates gue doang sih. sama tetangga sebelah juga. hehe. kita pada bikin cerita ttg kisah cinta segitiga anpan (nama disamarkan).. haha. well, i wont tell you the story.. kasian si anpan kalo ini di publish.. she's not ready enough to be famous like imaniti ;p

ceritanya malem itu, tetangga sebelah gue datang berkunjung. lalu datanglah si anpan.. dengan style gadis desanya.. spontan anak-anak langsung pada ngeceng"in dia. hahaha. para pnghuni kamar gue lantas membuat visualisasi kegombalan cinta penggemar anpan yang notabene jago matematika (anpan's not good at math). berikut kegombalannya. (oiya, tulisan ini termasuk program bimbingan orang tua loh! dont try this, readers! ;p)

si pria penggemar anpan (sppa) : anpan.. kamu gabisa matematika yaa?
a : iya..
sppa : mau aku ajarin ga?
a : boleh..
sppa : kamu pilih angka berapa?
a : mmmh.. kalo aku milih angka 1?
sppa : satu itu.. cuma kamu satu-satunya yang ada di hati aku
a : kalo aku milih 2..?
sppa : dua itu, jumlah anak kita nanti sayang..
a : kalo aku milih 3?
sppa : tiga itu nomor rumah cinta kita
a : kalo aku milih nomer 4 gimana?
sppa : empat itu jumlah keluarga kita..
a : kalau 1:0 gimana?
sppa : cintaku sama kaya 1:0 tidak terbatas buat kamu
a : kalo misalnya 2(phi)r ??
sppa : cintaku itu bulat seperti lingkaran, ia akan selalu berputar.
a : bagaimana dengan akar stengah?
sppa : cintaku padamu serumit itu dan sulit dijelaskan dengan kata"
a : ajarin aku tentang limit kalau begitu..
sppa : gaperlu belajar tentang limit.. cintaku gaakan ada limitnya..
a : bab abis limit itu differensial..
sppa : perbedaanlah yang membuat cinta kita bersatu anpan..
a : kalo turunan apa?
sppa : anak-anak kita taakan pernah kehilangan cinta kita (:-& hoekk)
a : bagaimana kalau fungsi naik dan fungsi turun?
sppa : susah dan senang selalu kita hadapi bersama
.......
and well, anpan dan si sppa terlibat cinta dalam matematika. ;D




note : serius ini gombal bgt, gue nulisnya aja udah jijay.. ahhaaa..

dan, kegomabalan itulah yang sukses bikin gue ga blajar biologi.. huhuhuhuhuhuuhuhu... maaf ya kali abis lo baca terus lu mual-mual.. bukan tanggung jawap gue man.. ;D
*wish me luck ;D

the imaniti story..

horeee akhirnya bisa ngepost lagi :D

gilaa. kemaren gue udah ulangan metematika aja. daaaan.. SUSAH!! :(( (huhuuuhuhu). tapi kapan sih matematika tuh nggak susah? pwaktu gue kelas 1 sd juga gue bilang matematika itu susah.. padahal cuma 1+1 doang..
okay, stop talking about the math stuffs. now, i want you hear a story about IMANITI. (hehe) enjoy the story :D

mohon maaf apabila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian. ini adalah fakta semata ;p

prologue : imaniti adalah anak imajiner dari roomate gue, sebut saja cinta (hehe) ;p. cerita ini disusun oleh gue dan 2 roommate gue yang lain. haha. tadinya gue mau menuangkan ide ini dalam bentuk novel, namun karena gue menderita short memory syndrom, makanya buru" gue abadikan di blog gue. jadi kalo mau bikin novel tinggal copy-paste aja. hahaha.
anyway, cinta, adalah seorang anak yang pintar, korban dari kejahilan roommate gue (apalagi kalo gue lagi marah", hehe abis dia ;p), hobinya adalah mencuci baju, terus suka nyanyi" lagu teriak" dan liriknya salah pula (serius, nyayinya KHAS bgt. haha). aduh, maaf yaa temen" gue emang suka aneh" :D.

ceritanya, ketika itu si cinta sudah bersuamikan pria kulit coklat eksotis (menurut si cinta, menurut gue dan para roommate: hitam ;p) namanya pak *N sebut saja seperti itu. lalu mereka berdua memiliki seorang anak bernama imaniti. kebiasaan si cinta dan pak *n adalah suka menyanyi sepotong kata dari sebuah lagu. cinta, ketika ia masih SMA ia gadis yang terlihat tidak terurus. pertanyaan para roommatenya kala itu adalah 'bagaimana ia bisa mengurus anaknya, imaniti kalo dia kerjaannya mencuci terus? bagaimana ia mengurus imaniti??' dia mempunyai 3 saudara, 2 laki" dan 1 perempuan. adik perempuannya, Vira adalah anak yg baik dan sangat sophisticated. modis. TERURUS. jauh berbeda dengan si cinta. kasihan cinta.
singkat cerita, imaniti sudah beranjak besar. kelas 2 sd. ketika itu ia baru pulang sekolah. ia segera menemui mamanya yangs edang melakukan kegiatan sehari-harinya yaitu, MENCUCI. dengan mudah imaniti dapat menemukan mamanya, karena si cinta mencuci sambil bernyanyi (sangat keras, sehingga tetangga juga tau kalo itu pasti si cinta). "mamaaaaa imaniti mau makaaan" teriak imaniti. namun si cinta sama sekali tidak mendengar imaniti. ia asik mendendangkan satu kalimat lagu yang imaniti sendiri tidak tahu itu lagu apa. karena kesal, imaniti segera pergi menemui papanya. sayang sekali ia menemukan papanya sedang terbaring tetap berdaya di kasur empuk. setiap hari memang begitu kerja si papa imaniti. "papaaa... imaniti mau makaaaaan" teriak imaniti. namun si papa tetap tidur tak bergeming. kasihan imaniti. karena merasa tidak diperdulikan, akhirnya imaniti memutuskan untuk pergi dari rumah. dengan membawa buntelan, ia pergi tak tentu arah. tentu saja si cinta dan suaminya tidak mengetahui hal tersebut.

imaniti menyusuri jalan yang ramai klakson mobil itu sendirian. sambil mendendangkan lagu 'betapa malang nasibku' (anak gak beda jauh sama emaknya. hehe) lalu secara dramatis ia bertemu tantenya, tante Vira dengan vw beetle warna pink dan baju matching warna pink juga. 'imaniti?? kamu nagpain disini??' kata tante vira. 'imaniti nggak suka dirumah tante.. mama sama papa udah nggak sayang sama imaniti lagi..' kata imaniti sambil menangis. akhirnya, tante vira memutuskan untuk membawa imaniti kembali ke rumah nenek dan kakeknya. sesampainya dirumah kakek dan nenek imaniti, para kakek dan nenek sangat terkejut mendengar pengkuan imaniti..

dirumah imaniti, si cinta dan suaminya masih asik tenggelam dalam aktivitasnya masing-masing. cinta masih konser sambil mencuci, dan papa imaniti masih tidur dalam damai, tak terganggu dengan suara si cinta. tiba" telefon berdering. papa imaniti yang terusik kemudian mengangkat telefon itu. alangkah terkejutnya ia ketika mendengar suara mertuanya yang sangat marah di seberang sana. kakek segera menyuruh si papa dan cinta ke rumahnya. mereka berdua bingung. kenapa sih si kakek sampai begitu marah? 'kita salah apa?' itu yang ada di pikiran cinta dan suaminya.

sesampainya di rumah kakek dan nenek..
kakek : cinta! duduk.
sayang sekali kakek tidak tahu kalau si cinta dan suaminya sambil mendengarkan ipod. cinta memasang lagu yang teriak teriak. well, dia bernyanyi" kecil.
kakek : CINTA! *N!!! KALIAN ITU BISA NGURUS ANAK NGGA SIH?? KENAPA IMANITI SAMPE KABUR??
cinta dan suaminya masih mendengarkan ipod
kakek : KAMU TAUK KALO IMANITI BELOM MAKAN??
cinta dan suaminya masih mendengarkan ipod, kali ini sambil menggoyang"kan kepalanya.
kakek : ASTAGA! DARI KAPAN IMANITI BELOM MAKAN CINTA??!?
tak disangka-sangka si cinta nyanyi dengan keras
cinta : from yeesterdaaay.. (from yesterday, 30 second to mars)
kakek : CINTA! KAMU UDAH GILA YAAAA??
lagu from yesterday diganti dengan suatu lagu aneh.. dan cinta kembali bernyanyi..
cinta : IM NOT INSANE.. IM NOT INSANE.. IM NOT INSANE IM NOOOOT INSANE.. (almost easy, avenged sevenfold)
kakek : ASTAGA! KALIAN INI BETUL" GILA! TERUS KALIAN MAUNYA APA??
cinta dan suaminya yang masih gak sadar kalo mereka lagi dimarahin sama kakek, masih terus berdendang. kali ini giliran suami cinta.
*n : I WANNA RIDE MY BICYCLEEEEE... (i wanna ride my bicylce, queen)

kemudian, perkara ini dibawa ke pengadilan, dan diputuskan bahwa imaniti diberikan hak asuhnya kepada tante vira.

kemudian, suami si cinta menggugat cerai cinta karena tidak tahan lagi terhadap cinta.
*n : CINTA! pokoknya kita CERAI..
(adegan ini digambarkan secara dramatis, ketika itu suami cinta melangkah keluarr dari pintu rumah mereka)
cinta : jangan ceraikan aku.... cz my true looooove, my whole heaaaaart, please dont throw that awaaaaaay.. (your guardian angel, the red jumpsuit apparatus)
*n : dont cry for me argentiiiiiinaaaa... (dont cry for me argentina, madonna)
cinta : iiiii'll bee your cryin shoulder.. (i'll be, edwin mccain)

namun, sekuat apapun cinta bernyanyi, suaminya taakan pernah kembali. begitu juga imaniti..

cinta : when you're gooone, pieces of my heart are missing youuuu.. when you're goone.. (when you're gone, avril lavigne)


dan begitulah cerita tentang imaniti. hidupnya merana, namun akhirnya ia berbahagia dengan tante vira.
hahaha ;D






*special thx to : 212 j
haha. that's a big craziness we've made.
love you. muah!